Oleh Sukra Rahmat Putra, Wartawan Alumni UIN IB Padang 

Hari mulai senja di Kota Padang. Langit jingga membentang, memberi isyarat bahwa waktu berbuka puasa semakin dekat. Gedung Sapta Marga Makorem 032/Wbr, Jumat (28/03/25). Para tamu undang dari Forkompinda Provinsi Sumatera Barat dan anak-anak panti asuhan Budi Mulya yang hadir riang menunggu waktu berbuka puasa. Gelak tawa mereka berpadu dengan suara adzan magrib yang segera berkumandang.

Namun, ada sesuatu yang berbeda sore itu. Jumat (28/4/2025), Gedung Sapta Marga Makorem 032/Wbr ini bukan sekadar menjadi tempat berkumpul saja . Lebih dari itu, gedung menjadi pelabuhan kasih. Komandan Korem 032/Wbr Brigadir Jenderal TNI Mahfud
menggelar Silaturahim Ramadan dan buka puasa bersama dengan Polri dan Forkopimda Provinsi Sumatera Barat serta Awak Media dan Anak Yatim Panti Asuhan Budi Mulya.

Pelukan Hangat Ramadan

Hariz salah seorang anak panti asuhan Budi Mulya , tak bisa menyembunyikan rasa harunya. "Ramadan kali ini dirinya bisa berbuka puasa dengan pemimpin di provinsi Sumatera Barat. Ini menjadi momen yang tak akan pernah dilupakannaya ," ujarnya sambil tersenyum.

Di antara deretan kursi tamu, tampak Komandan KOREM 032/Wbr Brigadir Jenderal TNI Mahfud , Kapolda Sumbar, Gubernur Sumbar, Danlantamal II Padang, Danlanud, Ketua DPRD Sumbar, Wakil walikota Padang, Dantim Intel dan beberapa pejabat yang hadir bukan sekadar sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari jalinan silaturahim itu sendiri.

Anak Panti asuhan Budi Mulya, Cahaya di Tengah Ramadan

Puncak acara itu tiba. Anak-anak panti maju ke depan, menerima santunan yang diserahkan secara simbolis. Wajah mereka cerah, matanya berbinar. Mereka bukan sekadar menerima amplop. Di sana ada harapan, ada kasih yang tak terlihat namun terasa begitu nyata.

Buka Puasa Bersama: Momen TNI Merajut Persaudaraan

Lebih dari sekadar mengenyangkan perut, buka puasa bersama TNI kali ini memiliki makna yang lebih dalam. Kebersamaan dalam menyantap hidangan mencerminkan eratnya silaturahim, baik dalam lingkup keluarga, teman, maupun kolega. Momen ini menjadi ajang bertukar cerita, menjalin keakraban, dan memperkuat rasa persaudaraan.

Dalam kebersamaan, tumbuhlah rasa memiliki atau melu handarbeni, yang dalam psikologi dikenal sebagai sense of belonging. Ketika rasa memiliki ini tertanam kuat dalam diri seseorang, maka akan muncul semangat melu hangrungkebi—yakni menjaga, membela, dan mempertahankan. Dalam konteks sosial dan keagamaan, semangat ini menjadi kekuatan kolektif yang mendukung tercapainya tujuan bersama TNI untuk kemaslahatan umat/ rakyat.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top